Pro Kontra Paraben “Si Pengawet” yang Menyebabkan Kanker?

Sebelum saya berceloteh sesuatu yang agak serius sedikit di sini, yaitu tentang pengungkapan mitos atau fakta dan sains terkait kanker yang disebabkan oleh paraben. akan saya awali dengan menyapa para laveesian dengan harapan dan do’a semoga tetap sehat dan cantik dan kece sepanjang masa, aamiin.

Ide menulis untuk disharing disini bermula dari seorang saudara saya dan mungkin mewakili para pemburu kecantikan dan kesehatan kulitnya, Dia menanyakan sesuatu hal yang lagi hangat diperbincangkan dikalangan industri kosmetik baik di dunia maya maupun dunia nyata.

Yaitu kosmetik yang mengandung paraben dapat menyebabkan kanker payudara, kanker rahim, menimbulkan masalah kesuburan pria. Maka saya mulai mencari-cari data terkait hal tersebut untuk menambah wawasan kita semua.

Apa aja sih yang mau dibahas di sini sekarang ? saya akan memulai dengan menganal apa itu paraben dan produk apa saja yang mangandung paraben biasanya muncul dengan nama-nama seperti butylparaben, methylparaben, dan propil paraben. Kenapa muncul pro dan kontra terkait paraben, Mengapa banyak orang menyebut paraben itu berbahaya?

Fakta tentang paraben merupakan bahan yang aman dalam produk kosmetik? Adakah produk lain sebagai pengganti bahan paraben? Dan yang paling heboh adalah masih gencar dan massifnya kampanye anti paraben atau Paraben free? Dan yang paling akhir adalah pendapat pribadi saya terkait penggunaan paraben yang ada di produk-produk kosmatik apakah aman atau tidak?

Hayuuk kita simak…, sambil santai dan tidak tegang ditemani secangkir teh manis hangat dan singkong rebus goreng.

Yup.. bagi kamu para laveesian atau lain yang sudah mengetahui yang terkait skin care ataupun kosmetik mungkin sudah terinduce dengan slogan “No Paraben” “beralih ke produk organic” dengan doktrin bahaya paraben yang berbahaya, sehingga menimbulkan image bahwa paraben saat ini sudah seperti racun yang dapat membunuh karena dapat memicu kanker layaknya kanker dapat membunuh.

Apakah paraben itu?

Paraben adalah suatu bahan yang dicampurkan kedalam produk kosmetik oleh industri kosmetik yang berfung si sebagai “bahan pengawet”(preservative). Secara teori bahan pengawet adalah bahan yang ada di dalam produk kosemetik dan yang mencegah dari tumbuhnya, atau bereaksi dengan cara menghambat/mematikan mikroorganisme yang dapat merusak, atau dapat tumbuh pada produk tersebut. Sehingga produk teresbut tidak mudah kadaluarsa saat setelah di buka penutupnya.

Nama-nama lain paraben adalah seperti: butylparaben, methylparaben, dan propil paraben.

Produk-produk yang mengandung paraben

Sebenarnya sedikit banyak sulit atau bahkan tidak dapat sama sekali bagi kita untuk menghindari dari pemakaian prouduk yang mengandung paraben. Sedikit saya beri bocoran produk yang mangandung paraben adalah makanan yang berasal tumbuh dari tanah seperti Buah-buahan, mangga, strawberi, wortel, dan bawang-bawangan, buah-buahan dan sayur-sayuran mengandung paraben kira-kira 85 %.

Produk dari susu sapi, kambing dan susu kerbau itu isi kandungan parabennya adalah kira-kira 87%, sekitar 91% kandungan paraben ada pada ikan dan kerang. yang paling mencengangkan adalah tananaman bji-bijian seperti gandum, cokelat, selai, kismis dll mengandung sekitar 98%, wow sungguh fantastis!!!

Mengapa muncul pro dan kontra tentang bahaya paraben?

Ada penelitian di eropa terutama peneliti dari University of New York di Albany pada tahun 2013 dan itu di masuk ke web site. Pada lama website ini menyebutkan bahwa pada tahun 2011, SCSS (Komisi Regulasi Uni Eropa), telah melarang isopropylparaben, isobutylparaben, phenylparaben, benzylparaben, dan pentylparaben.

Namun setelah sempat terjadi kontroversi, artikel yang diterbitkan oleh SCCS itu sendiri, telah meralat berita pernyataan yang dikeluarkan itu.

Hingga saat ini pihak regulasi dari uni eropa seungguhnya masih memperbolehkan paraben untuk digunakan. Kandungan paraben yang dinilai aman adalah termasuk methylparaben dan ethylparaben, dan dalam kandungan sekitar 1,9 g untuuk setiap kg produk yang di produksi pada propylparaben dan butylparaben masih boleh digunakan.

Sementara pada bahan isopropylparaben, isobutylparaben, dan phenylparaben ternyata masih sedikit sekali informasi tentang pernyataan ketidakamanannya, sehingga sulit untuk mengetahui risiko buruk apa yang mungkin terjadi jika kita memakai produk dengan nama tersebut.

Pada penelitian lain tentang kanker payudara terkait dengan pemakaian paraben pada tahun 2004, yakni penelitian derbare, Didalam penelitian ini mereka menguji paraben yang telah di temukan kemudaian dilakukan pengukuran dengan menggunakan blank sample (tidak mengandung komponen dan spesimen kimiawi) yang dipakai sebagai prosedur analitik.

Dari hasil ini ditemukan kadar paraben dalam ukuran nanogram/gram hal ini merupakan ukuran yang sangat kecil sekali, dan jika dianalogikan seperti menemukan sejumlah pasir dalam genggaman tangan saat kita berada di pantai.

Kemudian dilakukan tes pada unsur paraben didapatkan hasilnya lebih banyak unsur paraben terutama pada blank dari pada yang ditemukan pada sample asli pada jaringan payudara yang mengalami tumor. Jadi hal inilah yang menjadi kesimpulan bahwa kemungkinann bahwa paraben itu bukanlah berasal dari tumor yang ada di payudara.

Hingga pada akhirnya derbare melakukan klarifikasi kembali ke media itu bahwa tidak ada klaim pada penelitian tersebut yang memberikan menyatakan secara jelas dan pasti bahwa kanker payudara disebabkan oleh karena paraben. Ada Fakta lain membuktikan dalam penelitannya menyebutkan bahwa paraben dalam tubuh terurai dan akan dibuang melalui system skskresi tubuh, sehingga aman bagi tubuh itu sendiri.

Menurut literatur menyatakan bahwa sesungguhnya tidak ada satu petunjuk pun yang berhasil membuktikan bahwa bahan paraben menjadi penyebab timbulnya kanker akan tetapi yang terjadi adalah hormone estrogen yang malah bertanggung jawab terhadap timbulnya sel kanker pada payudara (jurnal of Journal of applied Toxicology yang dipublikasikan tahun 2012)

Ada suatu statement dari Riset dan Organisasi Global yang tugasnya mengatur tentang masalah kosmetik yang menyatkan bahwa paraben tidak menimbulkan suatu gangguan kesehatan dalam jumlah yang sedikit. Dari penelitian itu menjelaskan bagaimana paraben akan terurai saat sebelum masuk kedalam aliran darah sehingga dapat disimpulkan bahwa kecil kemungkinan akibat yang ditimbulkan paraben berupa gengguan kesehatan terkait hubungan dengan aktivitas estrogen (hormone wanita).

Fakta-fakta bahan paraben aman digunakan

  • Sejak dahulu kira-kira tahun 1920 bahan dasar paraben sudah digunakan sebagai unsur bahan pengawet dan sampai saat ini belum ada studi ilmiah yang secara jelas menguak efek buruk terhadap kesehatan akibat dari penggunaan paraben. Akan tetapi ada efek yang tidak baik berupa alergi dan hal itu merupakan masalah kasus perkasus dan hal itu tergantung dari orang apakah memang mempunyai riwayat aergi terhadap bahan kimiawi paraben. Biasanya yang mencetuskan alergi pada orang yang snsitif adalah derjat kandungan sekitar 0,5 %-3,5 % sementara pada kosmetik memakai dosis rata-rata 1%.
  • Menurut US Cosmetic Ingredient Review (CIR) menyatakan bahwa parabaen dinilai aman setelah melakukan penelitian selama bertahun-tahun sejak tahun 1984 hingga 2012.

Bahan pengawet pengganti paraben

Alternatif lain yang bisa digunakan sbegai bahan pengawet kosmetik antara lain:

  • Phenoxyethanol,
  • Sodium Benzoate
  • Benzyl Alcohol.
  • Oregano, thyme, rosemary, goldernseal root, grapefruit seed extract, dan lavender essential oil

Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing apalagi yang menggunakan bahan alami harganya akan lebih mahal tentunya.

Ketika paraben aman mengapa kompanye anti paraben tetap gencar dan massif?

Sebenarnya yang lebih besar pengaruhnya adalah bombastisnya media yang salah kaparah tentang paraben sehingga turut mendukung gerakan kosmetik paraben free. Apa lagi di tambah dengan perubahan gaya hidup yang mengarah kepada kembali ke alami. Hal-hal yang demikian yang mempengaruhi kita semua untuk membeli produk organik walupun sebenarnya agak mahal.

Tidak terasa pembahasan kita tentang pro kontra tentang paraben Panjang dan lama sampai singkong saya habis tak terasa dan teh nya ikut mengering. OK sebagai ulasan terakhir saya bisa memebrikan rekomendasi terkait paraben yaitu:

  • Kecuali bagi orang-orang yang alergi terhadapa komsmetik pabrikan dan ibu hamil, produk yang mengandung bahan pengawet sangatlah aman untuk dipakai.
  • Hingga saat ini belum ada alternative produk kosmetik dengan bahan dasar pengawet paraben yang terbaik dan termurah.
  • Sejak dipakainya paraben sebagai bahan pengawet pada industry kosmetik yakni tahin 1920. ternyata baelum ada penelitian yang membuktikan bahwa paraben berbahaya bagi kesehatan
  • Samapi sekarang kita akan sulit untuk menghindar terhadapa pemakaian yang mengandung paraben karena kandung yang ada paraben tidak hanya pada kosmetik akan tetapi pada yang lainnya seperti makanan sebanyak 90%
  • Belum ada organisasi ataupun lembaga terpercaya saat ini yang melarang penggunaan paraben.
  • Dan yang paling penting adalah harus lebih pekak dan teliti jangan sampai tertipu dengan pemasaran/marketing. Dengan dalih paraben free, sebenarnya digunakan untuk mendogkrak omzet penjualan dan menaikkan harga produk; sementara belum tentu memberikan khasiat produk itu memang jauh lebih “wow” dibanding produk mengandung bahan paraben yang relative lebih murah.
  • Dan yang paling akhir sekali penting saya utarakan adalah akan lebih baik untuk gonta-ganti produk yang belum tentu juga cocok dengan kulit kita, dan tentunya akan merogoh kocek yang lebih besar dibanding dengan produk yang mengandung paraben. Dan tentunya paraben memang terbukti lebih aman diantara bahan-bahan pengawet alternative lain.

Demikian ulasan yang agak sedikit serius tentang kontroversi produk yang mengandung paraben semoga membuka wawasan dan cakrawala kita semoga itu semua dapat bermanfaat bagi saya maupun bagi laveesian. Kita kembali lagi pada kesempatan sharing berikutnya.

Untuk bisa akses pertanyaan tentang antiaging dan aestetik dapat Klik di sini, kamu-kamu bisa berkonsultasi secara gratis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *